CERPEN 5M

hahaha

  • Home
  • Quote gua
  • CERPEN
  • DAFTAR ISI
  • OPINI
  • TENTANG BLOG
Home » All post

Saturday, 8 February 2014

KABUT TURUN BERGUMPAL-GUMPAL DARI PUNCAK GUNUNG


kumpulan puisi terkenal

Sebatang cemara lurus menatap langit ke tempat dewa-dewa
Berada
Barangkali ada suatu permintaan seperti penghuni-penghuni gubuk di bawahnya
Kemudian dikirimkan berkeranjang-keranjang kabut,
Berikut air, wortel, kentang, pisang, kelapa, bunga, jeruk, mangga
Beserta cinta, penderitaan, impian, harapan, perhiasaan aneka warna
Yang sekarang barangkali sedang dimasak atau dibuat makan
Kakek-nenekku di seberangnya
Di negeri jauh, tak terduga oleh pikir dan rasa


karya oei sien tjwan
tag :
kumpulan puisi online pusi terbaik
kumpulan puisi terkenal karya oei sien tjwan
puisi keren banget
puisi judul negeri kabut





MALAM


Inang berbaju kelam
berhati pualam

yang menutun matahari masuk peraduan
yang menurunkan kelambu kantukmu perlahan-lahan
yang mengayun kamu dalam tidur yang tenteram

mengayun bumi dalam istirah yang dalam
dan memasang bagimu lampu-lampu bintang demi bintang
dan mengatupkan kelopak kembang
di halaman, dalam taman
di padang , di lembah dan hutan-hutan


(Hartojo andangdjaja)



Tag
kumpulan puisi terbaik 
puisi berjudul malam
puisi karya hartojo andangdjaya


HUJAN BULAN JUNI

HUJAN BULAN JUNI
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan

diserap akar pohon bunga itu

(Sapardi Djoko Damono)

Tag
Puisi judul hujan bulan juni
kumpulan puisi terbaik

INTEROGASI CERMIN SLAMET RAHARDJO RAIS

INTEROGASI CERMIN SLAMET RAHARDJO RAIS
Puisi: Slamet Rahardjo Rais
Sumber: Suara Karya, Edisi 03/19/2006


Salam Matahari
matahari senantiasa mengirimkan kesetiaan
salamnya. sujudku hujan menjelang senja
sebagaimana harapan ladang-ladang
dan aroma tanah yang menunduk
walau dalam kantuk. baca dan simpan
semua yang lewat mengajariku
untuk memasuki tasbih mata langit
dzikir kota-kota yang mencemaskan kegelisahan
(anak-anak melesat terjebak pusaran
Pintu jendela rumah terasa belukar ilalang)
mengajariku agar burung mawarku terbang
berjabat tangan
ke tiang-tiang pasar
kereta api dan bis kota
tempat berjejal pikiran purba
sedemikian perkasa kekuatan membuat keutamaan
membunuh tumpukkan keputus-asaan
(mengunyah sujud lembah-lembah
Terowongan memanggil dalam wujud terang)
meminta ruh peristiwa
segera belajar terhadapnya
ketika berenang merebut kabut
membuat hujan
air meluas sebagai persajakan putih
menghalau belukar liar tumbuh di dalam dada

Interogasi Cermin
sejumlah interogasi terpahat di dinding
cermin memantulkan sejumlah wirid doa
menyelesaikan jarak
seorang pemburu melacak
suara yang lapar terjabak
tetapi yang terdengar petikan rebana
sebagai suara ayat-ayat kitab
dibacakan mengenang nasib tergeletak
tak mungkin tanpa menyebut
sejumlah luka
ombak mengusung kehendak
debar mengusung kerikil dan batu
menjadi onggokan tugu kota
megah sebagai saksi sejarah
kecemasan memang menggigilkan
nama senyap merekan suara. diam-diam
seekor cicak menggoyangkan isyarat purba
menyerahkan seikat bayang kemasgulan
memadati permukaan cermin. ruang
tempat terbaringnya waktu

Secangkir Kopi Pagi
secangkir kopi pagi sangat dirindu-rindukan
tempat persinggahan renungan
aromanya yang wangi menangkap
helai-helai daun mengering di udara
mengisi permukaan ruang
menjelma menjadi serdadu perang
membaca luas titik bidang
di atas meja
"sumur waktu" sepotong bisik
sambil menyerahkan daftar tutur kata
biarkan kekalahan menghitung kegagalannya
ketika seseorang bersimpuh
di tengah vas bunga raksasa
dengan menunjukkan beberapa luka tangan
"Luka segera mengering saudara,
setiakan memakmurkan tempat sujud kita!"

Ketika Senja
tanpa rintik rembulan pun bergegas
mabuk suara
anggur senja sudah disedia
erat gelas yang ditawarkan. aku mengambilnya
dan di pundak jendela sebuah agenda
gelas-gelas bergetar
suara yang mengaruskannya
terdapat gelas dalam kabut rembulan
setengah memucat mencatat wktu
memberi angin terhadap detak sayap
mempersiapkan tamasya kenikmatan
suara adzan menawarkan kendaraan
memasuki lorong paling sunyi dan gaduh
"Subhanallah. Alif Laam Miim!"

Gerimis Mayat
cakrawala melumat dirinya menjadi mayat
mengintai dan memucat
menjadi segerombolan ulat membelanjakan
mimpi-mimpi memakmurkan luas negeri
dalam gerimis hutan gemuruh kota
spanduk meminjam pesta rakyat
ketika memanjati menara dalam sebuah jubah
daun-daun peradaban menerima kabut
di dalamnya halte-halte
ruang tunggu yang menyerah

sebagai kalimat harap letih kecemasan
Newer Posts Older Posts Home
Subscribe to: Posts (Atom)

Entri Populer

  • 8 HAL YANG MEMBUAT SUSI PUDJIASTUTI MAKIN POPULER
  • SECANGKIR KOPI

Blog Archive

  • ▼  2015 (35)
    • ▼  October (1)
      • KARENA WAJAH KITA TAK SAMA
    • ►  September (3)
    • ►  August (4)
    • ►  July (23)
    • ►  May (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2014 (94)
    • ►  December (8)
    • ►  November (6)
    • ►  October (12)
    • ►  September (5)
    • ►  August (6)
    • ►  July (12)
    • ►  June (9)
    • ►  May (7)
    • ►  April (3)
    • ►  February (12)
    • ►  January (14)
  • ►  2013 (29)
    • ►  December (16)
    • ►  November (8)
    • ►  September (1)
    • ►  June (2)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2012 (25)
    • ►  December (4)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (4)
    • ►  August (3)
    • ►  July (1)
    • ►  June (2)
    • ►  May (9)
  • ►  2011 (13)
    • ►  December (1)
    • ►  November (3)
    • ►  October (3)
    • ►  September (2)
    • ►  June (1)
    • ►  May (2)
    • ►  January (1)
Betapa mudah dan tak sadar menjadi sombong dan tidak iklas dalam beramal (kata mutiara)

Powered by Blogger.
Copyright 2013 CERPEN 5M - All Rights Reserved
Template by Mas Sugeng - Powered by Blogger