CERPEN 5M

hahaha

  • Home
  • Quote gua
  • CERPEN
  • DAFTAR ISI
  • OPINI
  • TENTANG BLOG
Home » All post

Monday, 6 August 2012

BAPAKKU PENCURI

cerpen religi judul bapakku pencuri


  Nampak cewek berkerudung, dengan kemeja panjang dan rok lebar semata kaki  masuk ke dalam bus kota. Cewek itu mengenakan tas punggung. Dan ia terlihat anggun dan mandiri. Nama cewek itu adalah Mita. Ia biasanya pakai motor. Tapi motornya bocor dan harus dititipkan di bengkel. Ia tidak bisa menunggu karena harus menjemput adiknya. Kalau terlambat ia bisa dimarahi adiknya.

       Bus penuh sesak, Mita merasa gerah. Asap rokok dan bau keringat. Dan penumpang tampak tidak ramah. Tiba-tiba seorang pengamen datang. Ia memakai topi lebar sehingga wajahnya tidak kelihatan. Tubuhnya agak gempal. Dan ia mulai menggebrak gitar soaknya.

     “Selamat siang bapak , ibu, persembahan dari pengamen jalanan.” Suaranya nampak renyah. Mulailah dia bernyanyi. Biasanya suara pengamen yang  Mita jumpai itu gak ada yang asik. Tapi pengamen itu, Mita membuka matanya. Suaranya bening banget dan serak-serak seperti suara Ariel peter pan. Woow, siapa sih pengamen itu. Ia menyanyikan lagu berbahasa inggris lagunya The beatles. Itu kan  band kesayangan Mita. Kereen banget.

      “love-love love, theres nothing you cant do that can’t be done. Nothing you can sing that can’t sung. Nothing you can say, but you can learn how to play this game, it’s easy...” dst.
   All you need is love. Hah. Mita senang banget ndengerin lagu itu. Seketika rasa pusing dan kekesalannya akibat motor nya yang mogok mendadak hilang. Ia merogoh uang lima ribu. Ia akan ngasih uang itu untuk pengamen bersuara merdu itu.

    Pengamen berjalan  pelan menyusuri penumpang sambil menengadahkan topi lebarnya buat menerima recehan. Tiba di kursi Mita. Ia senang mendapat uang lima ribuan.
  “Terima kasih Mbak !” ucap pengamen itu.
    Mita tersentak. Ia seperti kenal suara itu. Ia mendongak dan ia memandang dengan jelas pengamen itu. Ia itu Moko. Yach Moko teman di kelasnya. Ia tak menyangka Moko itu pengamen.
    “Eh Mita yach !”  celetuk Moko dengan wajah malu. Selama ini memang tidak ada yang tahu kalau ia mengamen. Ia buru-buru turun dari bus kota ketika bus itu berhenti di lampu merah.
   Mita memandang Moko dari jendela bus. Ia melihat Moko berlari di pinggir trotoar. bergabung dengan anak pengamen jalanan yang lain. Mereka nampak tertawa dan juga menyedihkan.
    Huff. Mita menghempaskan punggungnya di kursi bus. Ia merenung. Buat apa sih Moko mengamen. Bukankah itu akan mengganggu belajarnya. Apakah orang tuanya sudah tidak bertanggung jawab sehingga membiarkan anak yang seharusnya tugasnya hanya belajar bergelantungan di bus kota.

    Mita betul-betul tidak mengerti. Siang itu petir menggelegar di langit. Awan hitam datang berbodong-bondong. Dan hujan turun rintik-rintik membasahi kota yang panas itu.

Moko berlari-lari menuju ke halaman rumahnya. Rambutnya basah. Gitar soaknya dipeluknya. Dan sampai di teras rumah tubuhnya sudah basah kuyup. Ia membuka pintu depan lalu meraih handuk kucel di jemuran di ruang tamu lalu mengeringkan rambutnya dan ia termangu, ia melihat bapaknya sedang sibuk memredeli sebuah motor.
    “Bapak ?”  sapa Moko. Ia senang bapaknya pulang. Bapaknya Moko hanya berdehem. Ia tidak menengok ke arah Moko. Dan larut dalam kesibukannya. Terlihat lintingan rokok terselip di bibirnya.
    “Bapak, nyuri lagi yah ?” geram Moko yang masih berdiri terpaku di depan pintu.
    Bapak Moko terdiam. Ia tersenyum sejenak. “Bukan urusanmu, yang jelas nanti ayah akan belikan kamu piano dan juga gitar yang bagus, biar kamu kelak jadi penyanyi beneran hahaha !” Pak Sentot ayah Moko itu tertawa sengak.

     Moko mendengus kesal. Ia berlari ke kamarnya. Ia membanting pintu kamarnya dan ia  meringkuk di pojok kasurnya.  Kenapa sih, bapaknya masih saja melakukan pekerjaan yang berbahaya seperti itu. Moko kalut. Ia tidak suka bapaknya masih menggeluti pekerjaan haram itu. Lebih baik menjadi pengamen daripada menjadi pencuri, guman Moko, lalu untuk menenangkan hatinya Moko bernyanyi sendiri di kamarnya yang penuh tempelan poster john lennon, paul mc cartney, ringo star dkk. “There are places i’ll remember. All my a life though some hace changed. Some forever, not for better. Some have gone  and some remain....(in my life)

     Esok harinya di sekolah Mita menemui Moko. Dan ia ingin Moko menyanyi lagi. Dan ia dikelilingi teman-teman kelasnya Moko menyanyikan lagu the baetles lagu berjudul eanor rigby. Semua bertepuk tangan dan memuji Moko. Mereka nggak menyangka Moko hafal lagu-lagu the beatles, dan ia menyanyikannya dengan baik.
  waktu  istirahat, Moko menyelinap ke perpus. Ia bersama beberapa temannya duduk buat membaca koran hari itu. Dan Moko terpekur dia melihat headline berita kriminal. Seorang pencuri sepeda motor digebuki massa sampai meninggal lalu dibakar. Sadis banget.
     Moko merinding. Ia teringat bapaknya. Seketika wajahnya pucat. Dan ia buru-buru keluar dari perpus dengan wajah ditekuk dan sayu. Ia bingung dengan masalahnya. Bagaimana kalau bapaknya bernasib sama seperti di koran itu. Ia tidak ingin bapaknya bernasib tragis. Tiba-tiba ia ingin menemui Mita. Ia merasa Mita itu sahabat yang baik. Ia jarang mengkritik, pendiam tapi juga perhatian. Ia ingin minta pendapat Mita.

     Mita ternganga ketika Moko bercerita kalau ayahnya pencuri. Ia melihat mata Moko merah dan seperti menahan agar tidak menangis. Cowok itu ternyata menanggung beban yang berat. Mita meghela nafas panjang. Ia memainkan sendok mie ayamnya sehingga menimbulkan bunyi denting di mangkok bening itu.
  “Hmm, gimana yah, rumit juga. Tapi kalau ayahmu tetap mencuri itu tidak diridhoi Allah. Kalau aku sarankan sich laporkan aja ke polisi, tapi itu berat banget kalau aku jadi kamu aku juga bingung..” kata Mita.  “Tapi berdoalah, Allah maha baik, ia akan membantumu melewati semua ini,”

      Melaporkan polisi. Hah, bagaimana mungkin seorang anak melaporkan ayahnya sendiri ke polisi. Lalu setelah curhat itu, Moko mengucapkan terima kasih pada  Mita dan ia berjalan pulang dengan gontai. Pikirannya berkecamuk. Sampai di rumah, ia melihat ayahnya sedang makan di ruang depan dengan petai dan sambil mengangkat kaki.
     “Moko, Bapak berikan kamu gitar baru tuh !” kata bapak sambil tertawa. Moko  terkejut. Ia melihat gitar baru yang jernih dan kincong di dipan rumahnya. Ia tak sabar ingin mengelusnya. Tapi langkahnya dihentikan.
   “Bapak  membeli gitar itu dengan hasil curian sepeda motor kan ?” desis Moko kesal.
   Bapaknya terdiam dan sedikit kesal. “Anak tak tahu diuntung, bapak sudah capek membelikan malah tak ada ucapan terima kasih, weleh.”
     Moko terpekur di kamarnya. Akhirnya ia mengambil keputusan ia akan melapor bapaknya ke polisi meski berat tapi itu lebih baik, supaya bapaknya kapok dan sadar.

     Siang itu dengan langkah berat Moko pergi ke kantor polsek . Di sana ia ditemui oleh wakapolsek Gunawan. “Ada apa Nak, kamu kelihatan bingung sekali, Bapak lihat kamu dari tadi berdiri di halaman polsek, mondar mandir nampak  seperti ragu-ragu,” 
    Lalu Moko menceritakan masalahnya dan ia mengatakan kalau bapaknya itu pencuri sepeda motor tapi Moko memohon agar wakapolsek tidak menghukum bapaknya.
   Wakapolsek menatap moko dengan takjub. Pemuda yang jujur dan berani. Jarang ada remaja seperti Moko, yang menyatakan kebenaran. Meski itu pahit dan mengorbankan ayahnya sendiri. “Terima kasih atas laporanmu Nak, bapakmu akan diperlakukan sesuai prosedur dan hukum yang berlaku.” Celetuk orang tua yang masih nampak gagah dan enerjik itu.
     Moko pamit pulang. Wajahnya sayu. Ia sudah siap dengan resiko akibat perbuatannya. Dan benar saja sore harinya. Rumah Moko di kepung polisi. Tetangga ribut melihat kejadian itu. Pak Sentot marah-marah, ia menyumpahi Moko yang melaporkan dirinya. “Anak durhaka ! aku ndak  punya anak seperti kamu !” murka pak sentot. Tangannya diborgol dan dia diseret ke tahanan mobil polisi. Kakinya sempat tertembak karena hendak melarikan diri.
      Moko berdiri di pinggir jalan dan memandang ayahnya sebagai pesakitan di atas mobil tahanan. Sirene polisi berbunyi, dan mobil polisi merangkak keluar dari gang rumah Moko. Ketika mobil melewati tempat berdiri Moko, Pak Sentot meludahi Moko dari jauh.
     Moko hanya menunduk. Dan tentu saja hatinya hancur dan sedih.
    Sebulan berlalu. Moko yang tabah tetap mengunjungi bapaknya di tahanan kabupaten. Ia membawa rantang makanan kesukaan ayahnya yaitu semur petai. Ia menunggu di luar karena jam tunggu belum dibuka. Tiba-tiba wakapolsek datang menghampiri.
     “Hei Nak kamu kan yang kemarin melapor Bapak kamu ya..?” tanya wakapolsek.
      Moko meringis. Ia duduk di sebelah Moko. Dan tiba-tiba Moko mendengar hp wakaposek  berbunyi. Ring tone lagu yesterday milik the beatles.  Setelah menerima telpon. Mereka kembali berbincang.
   “Bapak suka juga dengan the beatles ?” tanya Moko.
  “Suka aku penggemar jhon lennon !”
   “Aku juga suka,”
    Pak Gunawan ketawa gembira. “Oh yang lagu ini....say the  word and you’ll be free, say the word and be like me. Say the word im thingking of...”.
   “Itu kan lagu yang judulnya the word.”  Potong Moko. Hah, ternyata mereka berdua sama-sama maniak the beatles. Lalu mereka ngobrol panjang sambil sesekali nyanyi bareng. Dan mereka sering ngobrol grup band inggris itu dan sampai kadang-kadang lupa kalau hari sudah senja.

     Waktu telah melesat cepat. Sudah setahun lebih. Dan sebulan  lagi  Pak Sentot keluar dari tahanan.  Moko datang ke tahanan menengok  bapaknya. Ia  memakai baju rapi dan nampak manis. Di sampingnya pak wakapolsek Gunawan mendampinginya. Pak Gunawan sudah menganggap Moko sebagai anaknya. Dan ia yang tidak memiliki anak  mengangkat Moko menjadi anak angkatnya. Moko mendapatkan bantuan pendidikan dan juga kebutuhan sehari-hari dan hidupnya tidak terlantar.

     Moko bahagia sekali. Allah Maha besar. Kalau kita percaya pada kebesaran Nya. Allah akan membantu kita. Allah maha baik. Dia menyadarkan Pak Sentot. Ia tersentuh dan  melunak  hatinya oleh kesabaran dan ketelatenan  Moko yang sering menengoknya di penjara. Dalam hati Pak Sentot sudah memaafkan, sudah menerima Moko dan tidak marah lagi. Ia senang Moko  tamat SMA dan sebentar lagi melanjutkan kuliah atas biaya pak wakapolsek.

     Sore itu Moko nampak di antara bus kota. Ia ingin mengamen lagi. Ia memang suka menyanyi dan mengamen adalah  untuk kepuasan hatinya. Dan ia  menyanyi lagu religi. Dan semoga dengan menyanyi lagu religi ia mendapat pahala juga. Ihik...
           “Selamat siang bapak dan ibu, kami pengamen jalanan, akan menyanyikan lagu..lagu ini khusus kupersembahkan buat bapakku yang berada dipenjara...”
Moko memetik  gitarnya dan bernyanyi dengan mata berkaca-kaca.  “Bila saja umurku panjang. Kukan selalu mengabdi pada Mu. Bila nanti ku punya rizki. Ku kan pergi ke tanah suci.  Ya Allah kabulkan doaku.  Untuk menebus salahku. Ya Allah, berikan waktu tuk bahagiakan orangtuaku..” (lagu band Republik judul hidupku di jalan Mu)


Tamat .

(saya lupa kapan membuat cerpen ini, cerpen ini sudah lama sekali)




Thursday, 5 July 2012

Karena dia Bintang


cerpen motivasi judul karena dia bintang


    Tidak ada yang bisa menyembunyikan Bintang. Bintang itu temanku. Aku bertemu dengannya ketika sekolah dasar. Dia seorang monster. Bukan. Dia seorang boneka beruang. Tidak, tidak, dia itu seorang manusia. Seorang anak sepertiku. Dia hanya seorang anak laki-laki yang tidak punya tangan dan kaki. Sebenarnya dia punya tangan dan kaki tapi kecil sekali sampai tidak kelihatan terselip di pakaiannya. Tapi semangatnya luar biasa. Dia penderita tetra melia. Seorang yang cacat sejak dilahirkan, atau apalah. Aku pun tidak tahu persis kenapa dia begitu. Yang jelas banyak orang mengatakan itu takdir.

        Nama dia Bintang. Pertama kali melihatnya aku langsung shock. Tapi dia sangat percaya diri. Di atas kursi rodanya dia berkenalan denganku.
        “Anggun nama kamu yah..? Kita teman sebangku kan ?”
        Aku mengangguk. Aku merasa ngeri aja punya teman sebangku seperti dia. Tapi lama-lama setelah bergaul dengannya aku merasakan bahwa aku bagaikan kakak perempuan baginya.  Aku adalah pelindungnya. Aku selalu menolongnya dan membentak anak-anak yang mengejek dan  mengganggunya. Dia pun di kelas bagaikan raja bagi kami. Tapi aku merasa ayahnya Bintang dan juga Pak Angga sangat luar biasa kejamnya. Mereka itu seperti bersekongkol untuk menyiksa Bintang.
       Kejam. Karena ayahnya memaksanya sekolah di sekolah umum, bukankah dia pantas belajar di sekolah khusus penyandang cacat . Dan aku kesal pada pihak sekolah yang menerima dia di sekolah ini, mungkin karena Bintang itu anak orang kaya dan ngasih uang spp gede banget jadi anak cacat itu diterima, batinku saat itu.

       Dan terutama pada Pak Angga, dia itu  tak berperikemanusiaan. Dia itu wali kelas tapi juga musuhku. Bayangkan dia   memaksa Bintang gak pakai kursi roda di kelas. Kursi roda itu diikat di pohon mangga tempat parkir, sehingga Bintang harus susah payah ngesot dengan bokongnya agar sampai di pintu kelas. Dan Pak Angga membuat peraturan super kejam pada Bintang agar dia melakukan apapun sendiri. Seperti mengambil alat tulis di lokernya sendiri. Padahal loker itu  letaknya tinggi. Kami saja harus menjinjit untuk mengambilnya apalagi dia, dia itu hanya setinggi lutut kami. Tapi, Bintang juga sama kerasnya. Dia seperti tertantang. Dia waktu itu tetap berjalan terseok mendekati loker lalu menggunakan kursi kecil dan dia naik untuk mengambil alat tulisnya dengan susah payah. Kami sekelas tertegun menatapnya. Dan ketika sampai di kursi belajarnya, dia adalah yang terakhir, dan dia meledak tangisnya.

      Kami tidak tahan untuk tidak protes pada Pak Angga.  Dia bilang pada kami, kalau semua itu dilakukan demi untuk kebaikan Bintang kelak. Kalau dia selalu apa-apa dibantu, kelak dia  akan tergantung pada kami. Jadi intinya Pak Angga itu menganggap Bintang itu bukan orang cacat. Kejam. Batinku saat itu. Aku betul-betul tidak mengerti dengan guru galak itu.

     Pun pada bidang olahraga. Dia tetap memberikan tugas yang sama pada Bintang. Ketika melakukan lompat tali dia memberi semangat pada Bintang, ketika loncat tinggi dia pun memberi kan Bintang untuk melakukan hal itu, tapi dia lebih lunak, loncat tinggi itu disesuaikan dengan tinggi Bintang.

      Lama-lama aku menyadari bahwa Bintang pun menyukai Pak Angga. Apalagi waktu Pak Angga memilih dia ikut lomba lari dalam rangka hari olahraga di sekolah. Meskipun akhirnya Bintang di urutan terakhir dan dalam waktu yang sangat lama baru sampai finis, tapi luar biasa respon dari teman-teman, wali murid dan para guru. Mereka semua memberi tepuk tangan semangat pada Bintang agar tidak berhenti sebelum finis. Terlihat Pak Angga yang paling berteriak keras. “Ayo Bintang, jangan berhenti meskipun capai !” dan akhirnya Bintang sampai di finis,  dia terlihat gembira serasa menjadi juara satu. Bagiku juga dia tetap juara satu, tapi Pak Angga bilang  padanya. “harusnya kamu bisa lebih cepat dari itu,”  komentar Pak Angga sambil membungkuk menatap Bintang. Dan aku tahu waktu itu wajah Bintang berbinar. Dia merasa Pak Angga melihatnya bukanlah orang cacat, Pak Angga membuatnya tidak merasa berbeda dan itu membuat dia bahagia.

     Tuhan sekarang aku sadar, dan sejak saat itu cara pandangku pun berbeda. Aku yang dulu membenci Pak Angga mendadak menjadi pengagumnya. Aku pikir, Pak Angga itu pahlawan buat Bintang. Coba kalau dia membiarkan Bintang selalu memakai kursi roda, tulang-tulang tubuhnya akan lemah, dan tidak sekuat sekarang. Meskipun Bintang punya tangan dan kaki yang sangat mungil, ia bisa melakukan apapun sendiri, seperti menulis, melukis dengan mulut, bahkan main basket dengan tangan mungilnya.  Yach, kita saja yang menganggap dia cacat.

        Aku berpikir dia sama saja seperti kita. Kalau aku pakai kacamata bukankah aku juga tidak sempurna, kalau dia pakai kursi roda bukankah  juga tidak sempurna, jadi apa bedanya, kita sama-sama tidak sempurna, dia sama saja dengan lainnya, ciptaan Tuhan bukankah ada yang pendek, tinggi, hitam, putih, dan beraneka ragam. Tidak ada yang tampak aneh dari orang tanpa anggota badan. Tak ada alasan membedakan orang berdasarkan kondisi fisiknya semata-mata. Melihat dia aku lebih menghargai ketidaksempurnaan.

       Sekarang sudah tujuh tahun. Dan aku bertemu dengan Bintang.
       “Dari mana saja kamu, Teman ?” sapaku sambil jongkok berhadapan dengannya.
      “Main basket lah..?”  ujar Bintang. Wajahnya masih penuh semangat. Pakaiannya  dan fisiknya terawat dengan baik.          Aku tersenyum memandangnya. Ia pun tersenyum seolah dia mengatakan aku tidak menyesali kehidupanku, aku tidak perlu dilahirkan sebagai orang sempurna untuk merasakan bahagia. Kondisi fisik tidak ada hubunganya dengan kebahagiaan.



TAMAT



(Alhamdulilah selesai..)

2012-04-16 /// Inspirasi dari buku no ones  perfect (kisah hidup hirotoda ototake)

tag : kumpulan cerpen online judul cerpen motivasi karena dia bintang


Friday, 29 June 2012

Surat Misterius

cerpen misteri judul surat misterius

Surat itu ditemukan  Wortel (Anggun ) di lantai, tepatnya di lantai kamarnya sore itu sepulang ia dari eskul.  Siapa yang menaruhnya. Siapa yang meletakkanya. Siapa yang mengirimkannya. Tidak ada yang tahu. Bahkan bik Atun  pun menggeleng tidak tahu. Mama yang sibuk dengan bisnis tekstilnya, gak mungkin sempat membuat surat seperti itu. Dan pastilah kalau mama melakukannya itu adalah termasuk dalam deretan konyol yang tidak mungkin ia perbuat.


                “Dear wortel,
kamu pasti akan bertanya-tanya siapakah aku, aku pikir kamu jangan terlalu memusingkan siapa yang mengirimkan surat ini, tapi bacalah isinya, mulai saat ini, aku akan memberitahukanmu sesuatu yang penting, tentang kualitas pribadi yang disukai, bukankah semua orang ingin disukai..hal pertama adalah TULUS.  Ketulusan menempati peringkat pertama sebagai sifat yang paling disukai oleh semua orang. Ketulusan membuat orang lain merasa aman dan dihargai . orang yang tulus selalu mengatakan kebenaran, tidak mencari alasan atau memutar balikan fakta.... Wortel apakah selama ini kamu sudah tulus...? 
salam. Dariku.

               Huah. Surat apa itu. Wortel betul-betul tidak mengerti isinya. Dan pengirimnya tidak ada identitasnya. Tidak ada perangko. Jadi kemungkinan surat beramplop putih  itu tidak lewat kantor pos, tapi langsung dikirim dengan tangan hingga sampai kepadanya. Mungkinkah  ini pekerjaan orang gila. Surat itu diremas wortel dan dibuang ke bok  sampah di kamarnya.
                 Hari kedua, wortel menemukan surat lagi, di lantai kamarnya. Pulang sekolah, dengan pikiran masih panas dengan pelajaran sekolah, dan rasanya ia ingin marah. Eh, ada amplop putih, hampir terinjak olehnya, ketika dibuka, di dalam ada kertas berisi tulisan ini

                Dear wortel.  Kualitas pribadi yang disukai. Adalah RENDAH HATI. Berbeda dengan rendah diri yang merupakan kelemahan,kerendahan hati jusru mengungkapkan kekuatan. Hanya orang yang kuat jiwanya yang bisa bersikap rendah hati. Ia seperti padi yang semakin berisi semakin menunduk. Orang yang rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain. Ia bisa membuat orang yang diatasnya merasa oke dan membuat orang yang dibawahnya tidak merasa minder.  Salam dariku.

                Wortel melongo. Kertas tulisan itu digenggamnya. Ia menjatuhkan pantatnya dikasur. Mencoba membaca kembali surat itu. Ia masih belum berganti seragam. Dan kepalanya diserbu pertanyaan, siapakah  yang nulis surat ini. Gak ada kerjaan banget sih. Mama. Ia ingin bertanya mama. Tapi lagi-lagi di rumah itu tidak ada siapa-siapa. Mama sibuk bekerja. Dan kemungkinan malam hari ia baru pulang. Dan ia tidak mau bertanya hal konyol tentang surat itu.  Lalu wortel yang tidak mau pusing-pusing, meremas surat itu dan membuang di tempat sampah.

                Hari ketiga dan hari keempat. Wortel masih menerima surat itu.
              Hari ketiga isi suratnya begini. Dear wortel. Sifat selanjutnya adalah SETIA. Kesetiaan sudah menjadi barang langka dan sangat tinggi harganya. Orang yang setia selalu bisa dipercaya dan diandalkan. Dia selalu menempati janji-janjinya, mempunyai komitmen yang kuat, rela berkorban dan tidak suka berkhianat. Salam dariku.
Seperti biasanya, wortel merengut dan merasa surat itu pekerjaan orang iseng dan ia mengacuhkannya. Meskipun isi surat itu. Dipikir-pikir ngena banget.
                 Surat hari ketiga isinya adalah
                Dear wortel. Sikap orang yang disukai adalah BERSIKAP POSITIF. Orang yang bersikap positif selalu berusaha melihat segala sesuatu dari kacamat positif, bahkan dalam situasi yang buruk sekalipun. Dia lebih suka membicarakan kebaikan daripada keburukan orang lain, lebih suka bicara mengenai harapan daripada keputusasaaan, lebih suka mencari solusi darpada frustasi, lebih suka memuji daripada mengecam. Salam dariku.

                Huff. Wortel menghela nafas.  Mau tidak mau ia kepikiran dengan surat misterius itu, dan ia curhat pada teman gengnya si Anggi dan Gina. Ia diam-diam mencari surat yang dulu ia buang ke tempat sampah dan mengumpulkan surat itu dan menunjukkan pada teman-temannya.

                Dua temannya itu pun jadi ikut pusing tujuh keliling. Waktu istirahat mereka bersembunyi di koridor samping kelas. Dan seperti orang rapat. Anggi memegang kertas surat dan Gina juga begitu. Mereka membaca isi surat itu dari pertama sampai ke hari sembilan. Berkali-kali dua teman Anggun, nama panggilannya wortel  mendengus berkali-kali. Merasa amazing dan pikiran dipenuhi pertanyaan tentang surat itu.

                 Surat keempat. Dear wortel. Jangan sekali-kali kamu sedih. Bolehlah sedih tapi sebentar saja. Dan ingatlah kesedihan dan keluhan itu mengeluarkan energi negatif. Dan tahukah kau kualitas pribadi yang pasti akan disenangi adalah  CERIA. Karena tidak semua orang dikarunai temperamen ceria, maka keceriaan tidak harus diartikan ekpresi wajah dan tubuh, tapi sikap hati. Orang yang ceria adalah orang yang bisa menikmati hidup, tidak suka mengeluh dan selalu berusaha meraih kegembiraan. Dia bia menertwakan situasi, orang lain,  juga dirinya sendiri. Dia punya potensi untuk menghibur dan mendorong semangat orang lan. Salam dariku

                  Surat hari kelima. Dear wortel hari ini aku ingin bertanya tentang kualitas pribadimu. Apakah kamu bertanggung jawab. Semoga begitu karena  kalau kau BERTANGGUNG JAWAB pastilah itu menjadi nilai pribadi yang disukai siapapun. Orang yang bertanggung jawab akan melaksanakan dengan sungguh-sungguh. Kalau melakukan kesalahan, dia berani mengkuinya. Ketika mengalami kegagalan, dia tidak akan mencari kambing hitam untuk disalahkannya. Bahkan kalau dia merasa kecewa dan sakit hati, dia tidak akan menyalahkan siapapun. Dia menyadari bahwa dirinya sendirilah yang bertanggung jawab   atas apapapun yang dialami dan dirasakannya. Salam dariku.

                Surat ketujuh. Dear wortel. Semoga kamu tidak bosan dengan surat-surat yang aku berikan untukmu. Percayalah isinya adalah berisi kebaikan. Dan aku akan memberitahukan kamu sekali lagi tentang kualitas pribadi yang disenangi  yaitu  PERCAYA DIRI. Rasa percaya diri memungkinkan seseorang menerima dirinya sebagaimana adanya, menghargai dirinya dan menghargai orang lain. Orang yang percaya diri mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang baru.  Dia  tahu apa yang harus dilakukannya, dan melakukannya dengan baik. Salam dariku.

                 Surat kedelapan. Dear wortel. Apakah kamu punya jiwa besar. Aku berharap kamu kelak akan memilikinya. Kualitas pribadi  BERJIWA BESAR  karena dengan itu kamu akan dihargai.  Kebesaran jiwa dapat dilihat dari kemampuan seseorang memaafkan orang lain. Orang yang berjiwa besar tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa benci dan permusuhan. Ketika menghadapi masa-masa yang sukar dia tetap tegar, tidak membiarkan dirinya hanyut dalam kesedihan dan keputusasaan. Salam dariku.

                Dan ini adalah surat kesembilan.  Anggun (wortel),  gina dan Anggi membuka surat itu, tak sabar, mereka ingin membacanya.

                  Dear wortel. Tak terasa  akan tiba hari kesepuluh. Dimana itu hari terakhir dari suratku. Tapi aku akan memberitahumu tentang pribad i yang disukai selanjutnya adalah  EASY GOING. Orang yang easy going menganggap hidup ini ringan. Dia tidak suka membesar-besarkan masalah kecil. Bahkan berusaha mengecilkan masalah-masalah besar. Dia tidak suka mengungkit masa lalu dan tidak mau khawatir dengan masa depan. Dia tidak mau pusing dan stress dengan masalah-masalah yang berada diluar kontrolnya. Wortel kuharap kamu mengambil pelajaran dari tulisan surat sampai yang kesepuluh nanti. Salam dariku.
          “Gila banget, siapa sih yang ngirim surat ini, banyak banget ?”  ceplos Gina. Surat itu ditumpuk kembali dan diserahkan pada wortel.
          Wortel menggeleng. “entahlah, aku juga tidak tahu, isinya bagus tapi aku penasaran siapa yang mengirimkannya. Apakah dia orang dekatku.
         “Aku pikir pengirim surat itu adalah pembaca novel dunia shopie. Tuh novel berisi filsafat yang bagiku memusingkan dan ternyata yang ngirim surat padanya itu ayahnya sendiri. Huaha..jangan-jagnan ayahmu yang ngirim.” Ujar anggi dengan gaya becanda
          “Ngawur kamu, ayahku tuh udah meninggal, masak orang meninggal bisa ngirim surat ada-ada saja.”
          Huff lalu ketiga gadis itu mendengus kompak.
           “Aku pikir yang ngirim itu adalah penggemar gelap wortel !” kesimpulan anggi. “mungkin dia kak Farel, Pandu atau mungkin teman kelas kita yang tergila-gila padamu yaitu si Juned..yang jelas dia tahu nama terkenalmu yaitu wortel, jadi aku pikir dia itu orang yang gak jauh dari kamu lah..”
             “Huaahah...jangan lah kalau si Juned yang ngirim surat itu, kayaknya aku bisa pingsan.” Celetuk wortel sambil merengut.
            Lalu ketiga gadis imut itu sepakat akan menangkap basah tuh pengirim surat misterius. Besok adalah kesempatan terakhir. Karena si pengirim bilang akan ada satu surat lagi. Kebetulan hari minggu jadi anggi dan gina bisa nginep di rumah wortel.

           Sudah hampir sore, biasanya surat itu ditemukan di lantai dekat pintu masuk kamar atau di meja dekat jendela. Tiga gadis itu berpartoli dan tidak boleh lengah. Dan tapi dasar cewek, mereka waktu kumpul tidak lepas dari gosip dan juga ngobrol. Acara pengincaran dilupakan mereka malah asyik nonton tivi acara gosip. Kebetulan di rumah besar itu Cuma ada wortel dan dua pembantu. Ibunya wortel emang wanita karier jadi jarang di rumah. Dan anggi serta gina sempat trenyuh bagaimana kalau malam hari, tentu wortel kesepian, tapi wortel kelihatan fine-fine saja dan menikmati perannya sebagai anak tunggal dan sendiri di rumah..(halah bahasanya)
           “Menurutku yang paling kece itu bisma,”  ribut gina waktu tayangan selebritis di tivi.
           “Silahkan non,” kata Si  Atun, pembantu rumah, menghidangkan cemilan di karpet, di ruangan santai itu. Lalu setelah itu ia beranjak ke dapur lagi.
             “Makasih bih,” ujar  wortel. Ia menyelonjorkan kakinya dna membuka majalah remaja terbaru, dan ia tiba-tiba teringat surat.
            “hah, jangan-jangan pengirim surat itu sudah tiba..”  wortel segera bangkit dan berlari ke kamarnya. Dua temannya bengong lalu segera ikut lari di belakang worel. Wortel membuka pintu kamar. Dia melihat ada tangan terulur dari jendela di luar dan menjatuhkan sebuah surat.
            “Itu pengirim suratnya..!” jerit wortel. “Ia di samping rumah..!”  wortel  segera berlari keluar. Gina dan anggi tergopoh ingin mengejar si pengirim surat. Tapi sayang, mereka terlambat. Pengirim surat sudah lenyap tidak kelihatan batang hidungnya. Aneh sekali. Hanya ada bik atun sedang menyapu di samping rumah. Banyak sampah pepohonan berserakan di bawah pohon samping rumah.

           “Ada apa non , ada yang bisa saya bantu ?” ujar bik atun sambil meringis.
          “Enggak deh, bik,”  jawab wortel dengan kecewa.  Lalu dia , gina dan anggi masuk kembali ke rumah, dan masuk ke kamar. Surat di meja dengan amplop putih itu dipungut wortel. Ia menyobek sisi amplop dan membaca isi surat tersebut.


          Dear wortel. Ini adalah surat terakhir. Aku harap kamu akan mengingat isi surat-surat sebelumnya. Sepuluh kualitas pribadi yang disukai selanjutnya adalah EMPATI. Empati adalah sifat yang sangat mengagumkan. Orang yang berempati bukan saja pendengar yang baik, tapi juga bisa menempatkan diri pada posisi orang lain. Ketika terjadi konflik dia selalu mencari jalan keluar terbaik bagi kedua belah pihak, tidak suka memaksakan pendapat dan kehendaknya sendiri. Dia selalu berusaha memahami dan mengerti orang lain. Salam dariku . dan tidak penting siapa aku, setelah ini tidak akan ada lagi surat dariku.  dan semoga hari-harimu akan  selalu menyenangkan dan akan mempunyai pribadi-pribadi yang baik itu.

          Huhu. Surat itu akhirnya berakhir dengan begitu saja. Tanpa ada tulisan si pengirimnya. Wortel jadi pengin nangis. Anggi dan gina berusaha menghiburnya. Akhirnya. Dan memang hari selanjutnya tidak ada surat lagi di meja atau di lantai yang ditemukannya sepulang sekolah. Wortel jadi rindu dengan si pengirim surat itu, tapi yang lebih penting isi surat itu  akan dibaca lagi dan dikumpulkan dalam album bukunya.

            Sementara  sore itu,  mama wortel dalam perjalanan pulang. Dia di dalam mobil sedang menelpon bik atun.
           “Gimana suratnya ? dia tanya tidak kalau kemungkinan yang ngirim surat itu aku..”
            “Sama sekali tidak nyonya,ia tidak curiga..hihi,” bik Atun ngikik.


TAMAT. 
Referensi dari  kartu pintar vici victory.

tag :
kumpulan cerpen online judul surat misterius, 
cerpen judul surat misterius

Tuesday, 5 June 2012

PENCURI SANDAL JEPIT (cerpen)

kumpulan cerpen, cerpen religi



ilustrasi foto : anak-anak palestina



           Kafa  ya namaku Kafa,  anak  bandel begitulah anak-anak di kampung di pinggiran danau ini memanggilku.
            Sebenarnya mereka terpaksa memanggil aku. Sering mereka memanggil aku tepatnya menjerit padaku karena sandal mereka hilang. Sebenarnya aku hanya iseng aja, aku akan ketawa ngakak, kalau Siti , Zahro, bahkan si kecil Tahul dan Nisa, adalah langgananku. Maksudnya, sandal mereka akan aku sembunyikan sepulang dari mengaji, jadi mereka akan kelabakan mencari sandal tersebut, lalu aku akan tertawa terkekeh-kekeh di balik rimbunan pohon kalau mereka pulang dengan sandal satu saja.
            Aku tertegun, senja sudah merekah di balik gunung. Sebentar lagi adzan magrib bergema, aku sudah memakai sarung dan peci lusuhku, aku pamit pada ibuku, aku akan pergi mengaji. Aku mengaji di rumah Pak Kasiman. Yah, Kyai yang menguasai eh yang menjaga surau kecil di kampung kami.
            Aku berjalan bersama Rafi.
            “Pasti beres Raf, aku akan dapatkan sandal Zahro, aku akan menyembunyikan di dekat tumbuhan pagar pasti tak ketahuan,”
            “Tapi kemarin Zahro menangis dan melapor pada pak kyai,..”
            Aku hanya senyum senyum dan geleng-geleng  kepala. Aku yakin nanti pasti aksiku akan  berhasil dengan sukses.
            Setelah sholat berjamaah di surau itu, kami melangkah ke rumah pak kyai. Rumah pak kyai dekat surau kecil kami. Karena pak kyai sedang sibuk di surau, kali ini yang mengajari kami ngaji adalah  Kak Salma. Kak Salma itu putrinya Pak Kyai.
Setelah menghafal juz amma, dan lagi-lagi aku menghilang dengan pelan-pelan dari deretan anak anak di kampung kami itu.
            Aku memilih duduk-duduk di depan surau. Hari ini Zahro tidak kelhatan mengaji. Tapi itu tidak masalah, masih ada Siti, Nisa, Sukna, Tahul, Akbar, aku bisa ngambil sandal mereka. Masih ada anak besar di depan rumah Pak Kyai yang sedang mendengarkan pengajian, lebih baik aku menunggu mereka  itu pergi. Aku Sambil kipas-kipas dengan peci, aku menunggu saat yang tepat untuk menyembunyikan sandal teman-temanku, kudengar pak kyai sedang memberikan ceramahnya. Hari ini banyak juga yang sholat di surau, mungkin karena malam jumat. Bapak-bapak duduk dengan khidmat mendengarkan suara pak kyai.
            “Iklas, manusia itu bisa tidak berguna, dia punya ilmu dia pintar semua itu   akan berguna kalau mengamalkannya, tapi meskipun dia mengamalannya tapi tidak iklas maka semua itu tidak berguna, “
            “Kunci hidup itu adalah sabar, syukur, kalau kita bersyukur maka nikmat akan digandakan, tawadhu, banyak memuji Allah, qonaah apa adanya, dapat rezeki sedikit dinikmati, tapi kadang-kadang manusia diberi sedikit kurang, diberi banyak tidak bisa ngerawat, maunya ngerebut yang lain, itu tidak baik.
            “Amanah, maka akan jadi sakinah mawadah waromah, amal zyukur dengan cara lewat ucapan, amaliah, tingkah lakunya, hati yang baik, jangan berprasangka keburukan orang lain, yang terakhir syukur lewat harta benda berikanlah harta kita pada yang butuh,”
            Aku terkantuk-kantuk kenapa suara pak kyai seperti sirep tidur  dan aku lupa dengan aksiku, sampai akhirnya aku tidak tahu kalau pengajian hari jumat sudah berakhir, dan aku meringis, seseorang menjewer kupingku.
            “Auuuh..aduhh ampuun !”  erangku, aku mendongak dan melihat wajah Kak Salma sangat marah padaku.
            “Kafa, besok sandal temanmu gantilah dengan yang baru, atau perbuatanmu aku laporkan ke ibumu..”
            Aku mendongak. “Jangan kak, jangan laporkan ke ibu,” ujarku sambil merengek. Tentu saja aku akan dilaporkan ke ibu, karena aku tidak mungkin punya uang untuk mengganti sandal yang sudah kusembunyikan.
            “Ya, udah, kalau tidak bisa, besok ,kamu minta maaf sama Zahro dan sama teman-temanmu, dengar gara-gara kelakuanmu Zahro gak mau mengaji ! dan .....”
            Dan selajutnya Kak salma menyeret tanganku dan aku diberikan kalimat-kalimat panjang yang tidak aku mengerti. Intinya aku harus bertaubat, dan juga tidak boleh berbuat iseng lagi dan juga aku akan mendapat hukuman, mungkin menghafal  beberapa sholawat yang panjang panjang.

Tamat.
18.57

Tag
kumpulan cerpen religi,
 kumpulan cerpen religi online,
 kumpulan cerpen cerpen, 
cerpen judul pencuri sandal jepit 

Newer Posts Older Posts Home
Subscribe to: Posts (Atom)

Entri Populer

  • KUMPULAN SAJAK MASIH BISA TERTAWA (4)
  • MO GOK (KUMPULAN MOTIVASI GO-KILL)

Blog Archive

  • ▼  2015 (35)
    • ▼  October (1)
      • KARENA WAJAH KITA TAK SAMA
    • ►  September (3)
    • ►  August (4)
    • ►  July (23)
    • ►  May (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2014 (94)
    • ►  December (8)
    • ►  November (6)
    • ►  October (12)
    • ►  September (5)
    • ►  August (6)
    • ►  July (12)
    • ►  June (9)
    • ►  May (7)
    • ►  April (3)
    • ►  February (12)
    • ►  January (14)
  • ►  2013 (29)
    • ►  December (16)
    • ►  November (8)
    • ►  September (1)
    • ►  June (2)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2012 (25)
    • ►  December (4)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (4)
    • ►  August (3)
    • ►  July (1)
    • ►  June (2)
    • ►  May (9)
  • ►  2011 (13)
    • ►  December (1)
    • ►  November (3)
    • ►  October (3)
    • ►  September (2)
    • ►  June (1)
    • ►  May (2)
    • ►  January (1)
Betapa mudah dan tak sadar menjadi sombong dan tidak iklas dalam beramal (kata mutiara)

Powered by Blogger.
Copyright 2013 CERPEN 5M - All Rights Reserved
Template by Mas Sugeng - Powered by Blogger